20
Hai!
Akhirnya saya memutuskan nge-blog lagi nih. Terlepas dari ada tugas kelas tentunya.
Well, hari ini ulang tahun saya. Yep, saya berkepala dua, di saat mayoritas teman-teman angkatan saya masih satu tahun lebih muda dari saya. Semakin lama, semakin terbiasa. Toh umur tidak mutlak menggambarkan kedewasaan dan pengalaman seseorang kan? Mungkin juga sebagai bahan saya untuk berkaca pada diri sendiri.
Hari ini saya lalui seperti biasa, bermalas-malas di kosan, tidur-tiduran, bahkan untuk makan pun saya minta delivery (dan ini udah ketiga kalinya dlm minggu ini *sigh*). Keluarga saya masih otw bandung saat saya mengetik postingan ini. Saya kira hari ini akan berlalu biasa saja, tapi tidak ternyata.
Saat membereskan tumpukan pakaian bersih untuk dimasukkan ke lemari, saya baru tersadar kalau ternyata ada sesuatu di balik lipatan jaket saya. Kalo ngga salah itu tumpukan baju bersih kemarin, tapi saya belum rapihkan karena saya malas hehe. Singkat cerita, ternyata ada bingkisan kado dengan motif kota-kotak warni. Dari bentuknya, saya sudah bisa menerka kalau itu buku.
Waktu saya buka bingkisannya, ternyata itu buku yang saya pernah ada niatan untuk beli, dan ternyata itu dari teman sekosan saya *uhuk uhuk* Bukunya punya arti yang mendalam buat saya, jujur. Berjudul suatu hal yang sebenarnya ingin sekali saya lakukan. Saya mulai membalik-balikan halaman, sampai di halaman keberapa, saya mulai mencoba mencari bonus pembatas buku yang biasanya ada. Tapi, yang saya temukan malah memo kertas, ucapan dari si pemberi hadiah.
"jangan lupain mimpi-mimpi yang pernah kita ukir ya"
"jangan padamkan semangatmu yang dulu"
"jangan lakukan apa yang hatimu anggap salah"
"jangan abaikan apa yang hatimu anggap benar"
"aku selalu percaya, kamu adalah sosok yang bisa kucontoh dan kujadikan teladan"
Kira-kira begitu penggalan isi surat singkatnya. Saya menangis. Itu reaksi pertama saya ketika saya baca baris pertama penggalan di atas. Semakin jauh membaca, aliran air mata saya semakin banyak. Haduh. Lagi-lagi. Sejujurnya, saya merasa tak pantas dibilang seperti itu, seperti di baris terakhir. Jauh dalam lubuk hati saya, saya pikir malah dia yang ingin selalu saya jadikan kaca untuk diri saya sendiri. Dia lah yang sebenarnya lebih pantas untuk dijadikan teladan.
Terlepas dari itu semua, saya pikir saya menangis bahagia. Saya menangis karena ternyata dia selalu mau ada buat saya. Saya yang telah berubah selama setahun ke belakang.
Saya bosan, saya jengah. Terus-terusan jalan di tempat. Stagnan di fase ini, di fase yang sebenarnya sudah jauh saya alami selama 3 tahun yang lalu. Saya ingin berubah, saya mau berubah. Cliche memang. Tapi saya tidak bercanda soal ini.
Mungkin umur sebenarnya hanya angka pengingat, tak lebih.
p.s: setelah membaca blog temannya 'seseorang', saya jadi terenyuh. Cause I really took him for granted. And I can't make it better now for somehow. It's ok, maybe I shouldn't though. Udah ah, nanti fase yang disebut di atas terulang lagi.
Akhirnya saya memutuskan nge-blog lagi nih. Terlepas dari ada tugas kelas tentunya.
Well, hari ini ulang tahun saya. Yep, saya berkepala dua, di saat mayoritas teman-teman angkatan saya masih satu tahun lebih muda dari saya. Semakin lama, semakin terbiasa. Toh umur tidak mutlak menggambarkan kedewasaan dan pengalaman seseorang kan? Mungkin juga sebagai bahan saya untuk berkaca pada diri sendiri.
Hari ini saya lalui seperti biasa, bermalas-malas di kosan, tidur-tiduran, bahkan untuk makan pun saya minta delivery (dan ini udah ketiga kalinya dlm minggu ini *sigh*). Keluarga saya masih otw bandung saat saya mengetik postingan ini. Saya kira hari ini akan berlalu biasa saja, tapi tidak ternyata.
Saat membereskan tumpukan pakaian bersih untuk dimasukkan ke lemari, saya baru tersadar kalau ternyata ada sesuatu di balik lipatan jaket saya. Kalo ngga salah itu tumpukan baju bersih kemarin, tapi saya belum rapihkan karena saya malas hehe. Singkat cerita, ternyata ada bingkisan kado dengan motif kota-kotak warni. Dari bentuknya, saya sudah bisa menerka kalau itu buku.
Waktu saya buka bingkisannya, ternyata itu buku yang saya pernah ada niatan untuk beli, dan ternyata itu dari teman sekosan saya *uhuk uhuk* Bukunya punya arti yang mendalam buat saya, jujur. Berjudul suatu hal yang sebenarnya ingin sekali saya lakukan. Saya mulai membalik-balikan halaman, sampai di halaman keberapa, saya mulai mencoba mencari bonus pembatas buku yang biasanya ada. Tapi, yang saya temukan malah memo kertas, ucapan dari si pemberi hadiah.
"jangan lupain mimpi-mimpi yang pernah kita ukir ya"
"jangan padamkan semangatmu yang dulu"
"jangan lakukan apa yang hatimu anggap salah"
"jangan abaikan apa yang hatimu anggap benar"
"aku selalu percaya, kamu adalah sosok yang bisa kucontoh dan kujadikan teladan"
Kira-kira begitu penggalan isi surat singkatnya. Saya menangis. Itu reaksi pertama saya ketika saya baca baris pertama penggalan di atas. Semakin jauh membaca, aliran air mata saya semakin banyak. Haduh. Lagi-lagi. Sejujurnya, saya merasa tak pantas dibilang seperti itu, seperti di baris terakhir. Jauh dalam lubuk hati saya, saya pikir malah dia yang ingin selalu saya jadikan kaca untuk diri saya sendiri. Dia lah yang sebenarnya lebih pantas untuk dijadikan teladan.
Terlepas dari itu semua, saya pikir saya menangis bahagia. Saya menangis karena ternyata dia selalu mau ada buat saya. Saya yang telah berubah selama setahun ke belakang.
Saya bosan, saya jengah. Terus-terusan jalan di tempat. Stagnan di fase ini, di fase yang sebenarnya sudah jauh saya alami selama 3 tahun yang lalu. Saya ingin berubah, saya mau berubah. Cliche memang. Tapi saya tidak bercanda soal ini.
Mungkin umur sebenarnya hanya angka pengingat, tak lebih.
p.s: setelah membaca blog temannya 'seseorang', saya jadi terenyuh. Cause I really took him for granted. And I can't make it better now for somehow. It's ok, maybe I shouldn't though. Udah ah, nanti fase yang disebut di atas terulang lagi.
Komentar
Posting Komentar